1. menurut
cognitive theory of multimedia learning bahwa ada tiga asumsi utama yang
dijadikan acuan dalam merancang suatu multimedia pembelajaran. jelaskan ketiga
asumsi tersebut dengan memberikan contoh masing-masing media yang relevan untuk
pembelajaran kimia
jawab :
Menurut
Mayer (2003) CTML memiliki tiga asumsi dasar. Asumsi yang pertama adalah Dual
Chanel, manusia memiliki dua cara dalam memproses informasi apa saja yang
mereka dapat melalui dua jalur, visual (penglihatan) dan audio (pendengaran).
Asumsi yang kedua adalah Limited Capacity, manusia memiliki daya tampung yang
terbatas terhadap informasi yang masuk pada setiap jalur yang diterima pada waktu
yang sama, asumsi ini diadopsi dari Cognitive Load Theory. Asumsi yang ketiga
adalah Active Processing, manusia menggabungkan berbagai macam informasi yang
mereka terima baik secara visual maupun audio yang kemudian digabungkan menjadi
satu kesatuan yang koheren dan mengintegrasikannya dengan pengetahuan yang lain.
Bagget (1984) juga menambahkan bahwa pembelajaran yang melibatkan pendengaran
dan penglihatan akan menjadi lebih 10 relevan terhadap pembelajaran daripada
hanya pendengaran atau penglihatan saja.
1. Dual Channel
Assumption
Sistem kognitif manusia terdiri dari dua saluran
berbeda untuk mewakili dan memanipulasi pengetahuan, yaitu 1) visual-pictorial
channel dan auditory-verbal channel (Baddeley,1986, 1999; Paivio,
1986). Gambar memasuki sistem kognitif melalui mata dan dapat diproses sebagai pictorial
representations pada visual-pictorial channel. Kata-kata lisan
memasuki sistem kognitif melalui telinga dan dapat diproses sebagai verbal
representations pada auditory-verbal channel.
2. . Limited
Capacity Assumption.
Setiap saluran pada sistem kognitif manusia memiliki
keterbatasan kapasitas untuk memegang dan memanipulasi pengetahuan (Baddeley,
1986, 1999; Sweller, 1999). Ketika banyak gambar (atau bahan-bahan visual
lainya) disajikan pada saat bersamaan, saluran visual-pictorial bisa
menjadi overload. Ketika banyak kata-kata lisan (dan sounds
lainnya) disajikan pada saat bersamaan, saluran auditory-verbal bisa
menjadi overload.
3.
Active Processing Assumption.
Pembelajaran bermakna (meaningful learning)
terjadi ketika pebelajar terlibat dalam pengolahan aktif pada saluran, termasuk
memilih kata-kata dan gambar yang relevan, mengorganisasikan kata-kata dan
gambar ke dalam model pictorial dan verbal yang koheren, dan
mengintegrasikan kata-kata dan gambar satu sama lain dengan pengetahuan awal (prior
knowledge) yang sesuai (Mayer, 1999, 2001; Wittrock, 1989). Proses
pembelajaran aktif tersebut lebih memungkinkan terjadi ketika corresponding
verbal and pictorial representations berada pada memori kerja pada waktu
yang sama.
Asumsi di
atas menunjukkan bahwa CTML dibutuhkan sebagai dasar teori untuk membuat media pembelajaran
yang lebih efektif dan efisien dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Mayer
(2003) juga menambahkan bahwa perancangan e-learning haruslah berdasar pada
CTML sebagai dasar teori.
Hal ini
sesuai dengan prinsip Cognitive Theory of Multimedia Learning yang berasumsi
pada dual channel. Media adobe flash ini diharapkan dapat memberikan solusi dan
suasana baru yang menarik dalam pembelajaran sehingga dapat meningkatkan
pemahaman konsep. Penggunaan media pembelajaran audio visual diperlukan agar
penyampaian materi tidak hanya dalam bentuk hafalan-hafalan, tetapi juga dapat
menanamkan pemahaman yang mendalam kepada peserta didik.
Media
pembelajaran saat ini juga sudah mengarah pada e-learning sebagai usaha dalam
mengembangkan proses belajar mengajar. Maka pengembangan pendidikan menuju e-learning
juga merupakan suatu keharusan agar standar mutu pendidikan dapat ditingkatkan,
karena e-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam
penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang berlandaskan tiga kriteria
yaitu:
1. E-learning merupakan jaringan dengan
kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar
atau informasi,
2. Pengiriman sampai ke pengguna
terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar,
3. Memfokuskan pada pandangan yang
paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma pembelajaran tradisional (Rosenberg,
2001)
Hal-hal di
atas menunjukkan bahwa multimedia memiliki peranan tersendiri yang bisa
meningkatkan hasil belajar siswa.
Sistem
pengajaran on-line ini memungkinkan siswa untuk mengikuti pembelajaran tanpa
harus bertatap muka dan bisa diakses dimana saja murid berada. Sehingga memberi
kesempatan kepada siswa untuk bisa belajar secara mandiri. Tavangarian dkk.
(2004) mengungkapkan juga bahwa e-learning termasuk dalam model kontruktivisme
yang tidak hanya terstruktur tetapi juga
menunjukkan adanya perpindahan dari pengalaman pribadi siswa menjadi pengetahuan
pribadi melalui proses pembelajaran. Dengan diawali kemandirian ini maka hasil
pencapaian belajar siswa menjadi lebih maksimal.
Purcell
(2010) menyatakan bahwa penggunaan teknologi sebagai media pembelajaran semakin
meningkat dalam beberapa dekade ini, yang menjadi pembelajaran nomor 3 yang
diminati dan berhasil meningkatkan hasil belajar remaja hingga 38%.
2. jelaskan
bagaimana teori dual coding dapat diadaptasikan dalam menyiapkan suatu
multimedia pembelajaran kimia
jawab:
Teori dual coding yang
dikemukakan Allan Paivio (Paivio, 1971, 2006) menyatakan bahwa informasi yang
diterima seseorang diproses melalui salah satu dari dua channel,
yaitu channel verbal seperti teks dan suara, danchannel visual
(nonverbal image) seperti diagram, gambar, dan animasi. Kedua channel ini
dapat berfungsi baik secara independen, secara paralel, atau juga secara
terpadu bersamaan (Sadoski, Paivio, Goetz, 1991). Kedua channel informasi
tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Channel verbal
memroses informasi secara berurutan sedangkan channel nonverbal
memroses informasi secara bersamaan (sinkron) atau paralel.
Aktivitas
berpikir dimulai ketika sistem sensory memory menerima
rangsangan dari lingkungan, baik berupa rangsangan verbal maupun rangsangan
nonverbal. Hubungan-hubungan representatif (representational connection)
terbentuk untuk menemukan channel yang sesuai dengan
rangsangan yang diterima. Dalam channel verbal, representasi
dibentuk secara urut dan logis, sedangkan dalam channel nonverbal,
representasi dibentuk secara holistik. Sebagai contoh, mata, hidung, dan mulut
dapat dipandang secara terpisah, tetapi dapat juga dipandang sebagai bagian
dari wajah. Representasi informasi yang diproses melalui channel verbal
disebut logogen sedangkan representasi informasi
yang diproses melalui channel nonverbal disebut imagen (lihat
Gambar).
Hasil
penelitian yang dilakukan oleh Paivio dan Bagget tahun 1989 dan Kozma tahun
1991, mengindikasikan bahwa dengan memilih perpaduan media yang tepat, kegiatan
belajar dari seseorang dapat ditingkatkan (Beacham, 2002; Dede, 2000; Hogue,
(?)). Sebagai contoh, informasi yang disampaikan dengan menggunakan kata-kata
(verbal) dan ilustrasi yang relevan memiliki kecenderungan lebih mudah
dipelajari dan dipahami daripada informasi yang menggunakan teks saja, suara
saja, perpaduan teks dan suara saja, atau ilustrasi saja.
Menurut teori
Dual Coding yang dikemukakan oleh Paivio, kedua channel pemrosesan
informasi tersebut tidak ada yang lebih dominan. Namun demikian, Carlson,
Chandler, dan Sweller tahun 2003 dalam (Ma, (?)) telah melakukan sebuah riset
untuk melihat apakah pembelajaran yang dilakukan melalui diagram atau teks akan
membantu kegiatan belajar. Carlson dan kawan-kawan mengasumsikan bahwa karena
diagram lebih lengkap dibandingkan teks, dan dengan diagram seseorang mampu
menghubungkan antara elemen yang satu dengan yang lainnya, maka orang yang
belajar melalui diagram akan lebih berprestasi dibandingkan dengan orang yang
belajar dengan menggunakan teks saja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk
bahan belajar yang memiliki tingkat interaktivitas tinggi, kelompok yang belajar
dengan menggunakan diagram memiliki prestasi lebih tinggi dibandingkan dengan
yang hanya belajar dengan teks. Untuk bahan belajar yang tidak memiliki tingkat
interaktivitas yang tinggi, kedua kelompok tidak menunjukkan perbedaan prestasi
yang signifikan.
Sebagai
tambahan kesimpulan dari teori dual coding ini jika
dikaitkan dengan bagaimana seseorang memroses suatu informasi baru, dapat
dinyatakan bahwa teori ini mendukung pendapat yang menyatakan seseorang belajar
dengan cara menghubungkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah
dimiliki sebelumnya (prior knowledge). Peneliti berpendapat bahwa
seorang tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama juga
memiliki prior knowledge yang lebih banyak dibandingkan
dengan mereka yang memiliki masa kerja lebih pendek, sehingga dapat diharapkan
bahwa para tenaga pemasaran yang memiliki masa kerja lebih lama akan lebih
mudah memahami informasi baru yang disampaikan.
Teori Dual
Coding juga menyiratkan bahwa seseorang akan belajar lebih baik
ketika media belajar yang digunakan merupakan perpaduan yang tepat dari channel verbal
dan nonverbal (Najjar, 1995). Sejalan dengan pernyataan tersebut, peneliti
berpendapat bahwa ketika media belajar yang digunakan merupakan gabungan dari
beberapa media maka kedua channel pemrosesan informasi (verbal dan nonverbal)
dimungkinkan untuk bekerja secara paralel atau bersama-sama, yang berdampak
pada kemudahan informasi yang disampaikan terserap oleh pembelajar.